Tidak ada yang lebih menyenangkan selain suara anda ternyata mendapat sebuah perhatian yang tidak terduga (guna news feed)
Jadi begini, Diam bukan berarti tidak peduli, saya (kami ) bukan mahasiswa militan yang tidak punya dedikasi (walaupun kami tidak 'berisik'). Kami juga tidak ongkang-ongkang kaki, tetapi lebih menyenangkan bagi kami untuk menyadari bahwa kami memiliki prestasi TANPA harus diiringi oleh kobaran suara bernada sinis.
Juga dengan karya signifikan yang melebihi ilusi seorang pujangga, kami mampu membuktikan kalau saya (kami) bukan sekedar
"Tong Kosong yang Berbunyi Nyaring" :) Itulah sosok saya (kami) yang sedang anda pertanyakan. Mau lebih kenal? Tinggal buka mata.
-terimakasih. Semoga tidak ada yang tersinggung. Dan ini lebih dari cukup :) -
27/11/10
26/11/10
Ritmik Melodis
Ya, kita dipertemukan oleh rutinitas yang sama-sama kita cintai dan yang bukan pula sebuah kebetulan.
Kemarin, adalah anugerah, ketika saya tahu bahwa anda sangat mengaggumkan. Membuat saya sadar bahwa inilah gejala...........Ah. sekarang saya percaya bahwa selalu ada yang lebih baik dari sejumput masa lalu. Dan itulah anda.
for: - prvrt-
Kemarin, adalah anugerah, ketika saya tahu bahwa anda sangat mengaggumkan. Membuat saya sadar bahwa inilah gejala...........Ah. sekarang saya percaya bahwa selalu ada yang lebih baik dari sejumput masa lalu. Dan itulah anda.
for: - prvrt-
10/10/10
Thank God there's a Mute Button on Twitter
Belakangan ini, saya menemukan kesenangan tersendiri ketika membuka twitter. Kesenangan tersebut menjalar-jalar tak terbendung sampe saya akhirnya bikin tulisan ini.. -__________-
Dimana letak kesenangannya? "Twittermu harimaumu". Ya jelas dari timeline orang-orang yang saya follow.
Gue sendiri juga bukan orang yang hobi nge-twit. Bisa dibilang gak semua kegiatan gue saat itu, gue cantumkan di twitter. Misal : (@ Sushi Tei...mm late dinner with my lovely...yummy...).... hehe
Timeline tentu mencerminkan isi hati atau pikiran si pemilik pastinya (atau mungkin hanya ikut tren nge-post sesuatu). Belakangan, saya suka senyum-senyum sendiri liat twit sejumlah orang yang saya follow, dimana mereka lagi suka marah-marah, mengumpat, bahkan mengkritisi sesuatu dengan pedasnya dengan BERKALI-KALI. Wow!
Okay, Dont get me wrong... niat saya mem-post ini gak bermaksud apa-apa. Cuma, kadang heran aja, kenapa ya orang-orang itu makin ke sini, taunya cuma protes, mengumbar kejelekan sesuatu (yang tanpa sadar juga ternyata membuka aib si penulis twit sendiri) tanpa memberi solusi, dan dilakukan di media publik? Hmm.
Beberapa orang yang saya follow, belakangan giaaaaatttt banget melakukan "persuasi" atau mungkin "provokasi" di twitter. Tentu saja, itu hak mereka, sekali lagi, HAK. Dan sebenarnya saya sering "gatel" ingin ikutan komentar atau 'reply' dengan yang kira-kira seperti ini
"Emang, aksi lo untuk memperbaiki sistem yang lo kritik itu, udah sejauh apa?" .
Gue pernah melontarkan balasan seperti itu pada salah satu org yang gue follow, dan jawabannya seperti ini :
"Ya ini, aksi protes dan membuka kebobrokan, biar orang-orang pada tau".
Tapi jangan lupa, sekali lagi, ini adalah Media Publik, dimana orang-orang bebas melihat dan menilai isi tulisan lo. Jadi, semua bisa menjadi SAH di twitter, ketika lo diserang balik karena pernyataan lo, bahkan ketika lo mengumpat, ketika lo bikin kultwit yang isinya protesan gak ada habis-habisnya pun sah-sah aja. Dan termasuk pendapat saya tentang orang-orang seperti itu, juga terbilang SAH. HAHA.
But, Thank God there's a Mute Button on Twitter nowadays. Jadi, saya menemukan solusi tersendiri untuk menghindari persuasi sejumlah oknum yang kadang bikin saya sendiri jadi mikir "BACOT BANGET LO". Mungkin lebih halus daripada "unfollow" atau "block user" karena faktor kenalan, atau sejenisnya. Hypocrite? I dont think so. Selama sifatnya menjaga perasaan.......(*isi sendiri) haha
Okay, just dont take this post seriously. Just thank God, you can push that Mute Button anytime you want. :)
Dimana letak kesenangannya? "Twittermu harimaumu". Ya jelas dari timeline orang-orang yang saya follow.
Gue sendiri juga bukan orang yang hobi nge-twit. Bisa dibilang gak semua kegiatan gue saat itu, gue cantumkan di twitter. Misal : (@ Sushi Tei...mm late dinner with my lovely...yummy...).... hehe
Timeline tentu mencerminkan isi hati atau pikiran si pemilik pastinya (atau mungkin hanya ikut tren nge-post sesuatu). Belakangan, saya suka senyum-senyum sendiri liat twit sejumlah orang yang saya follow, dimana mereka lagi suka marah-marah, mengumpat, bahkan mengkritisi sesuatu dengan pedasnya dengan BERKALI-KALI. Wow!
Okay, Dont get me wrong... niat saya mem-post ini gak bermaksud apa-apa. Cuma, kadang heran aja, kenapa ya orang-orang itu makin ke sini, taunya cuma protes, mengumbar kejelekan sesuatu (yang tanpa sadar juga ternyata membuka aib si penulis twit sendiri) tanpa memberi solusi, dan dilakukan di media publik? Hmm.
Beberapa orang yang saya follow, belakangan giaaaaatttt banget melakukan "persuasi" atau mungkin "provokasi" di twitter. Tentu saja, itu hak mereka, sekali lagi, HAK. Dan sebenarnya saya sering "gatel" ingin ikutan komentar atau 'reply' dengan yang kira-kira seperti ini
"Emang, aksi lo untuk memperbaiki sistem yang lo kritik itu, udah sejauh apa?" .
Gue pernah melontarkan balasan seperti itu pada salah satu org yang gue follow, dan jawabannya seperti ini :
"Ya ini, aksi protes dan membuka kebobrokan, biar orang-orang pada tau".
Tapi jangan lupa, sekali lagi, ini adalah Media Publik, dimana orang-orang bebas melihat dan menilai isi tulisan lo. Jadi, semua bisa menjadi SAH di twitter, ketika lo diserang balik karena pernyataan lo, bahkan ketika lo mengumpat, ketika lo bikin kultwit yang isinya protesan gak ada habis-habisnya pun sah-sah aja. Dan termasuk pendapat saya tentang orang-orang seperti itu, juga terbilang SAH. HAHA.
But, Thank God there's a Mute Button on Twitter nowadays. Jadi, saya menemukan solusi tersendiri untuk menghindari persuasi sejumlah oknum yang kadang bikin saya sendiri jadi mikir "BACOT BANGET LO". Mungkin lebih halus daripada "unfollow" atau "block user" karena faktor kenalan, atau sejenisnya. Hypocrite? I dont think so. Selama sifatnya menjaga perasaan.......(*isi sendiri) haha
Okay, just dont take this post seriously. Just thank God, you can push that Mute Button anytime you want. :)
08/10/10
Ngasal
Di tengah kritik (sok) idealis setiap insannya yang merasa dirinya adalah ahli pemikir.
Dikelilingi individu yang terus berlomba merebut perhatian lawan jenis maupun sesama jenis dengan idealisme yang (sok) terpelajar.....Lalu, mereka bergejolak.
Mendongak angkuh dan bahagia karena mendapat sambutan, kemudian semakin berkoar, tanpa secuil kontribusi atau bahkan simbolnya saja.
Jangan buat kesempurnaan ini kusut karena kesibukanmu atas pencarian terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Sesekali, melihatlah dengan batin. Terimalah sesuatu di luar sana yang sedang kamu abaikan. Kemudian, DIAM.
15/09/10
Dunia dalam Kelamin
Saya melihat seorang pengembara berjalan mendekat.
Tanpa sehelai benang.
Telanjang, ditelanjangi, atau mungkin menelanjangi.
Juga tanpa kelamin, maka tidaklah ia berjalan dengan malu.
Bukan cacat, bukan pula halusinasi.
Apakah dunia ini bulat?
Apakah dunia ini datar?
Ia tidak lagi peduli.
Menurutnya, lebih baik datar, jika perubahan berwujud tupai berkepala dua yang menggerogoti kebahagian yang belum sempat diraba.
Lebih baik bulat ,jika nestapa tidak memandang luka dan nanah yang belum kunjung kering.
Tidak ada yang lebih baik di dunia ini selain berkelana sambil telanjang, tanpa sehelai benang, dan tak berkelaminkan sebuah identitas
Tanpa sehelai benang.
Telanjang, ditelanjangi, atau mungkin menelanjangi.
Juga tanpa kelamin, maka tidaklah ia berjalan dengan malu.
Bukan cacat, bukan pula halusinasi.
Apakah dunia ini bulat?
Apakah dunia ini datar?
Ia tidak lagi peduli.
Menurutnya, lebih baik datar, jika perubahan berwujud tupai berkepala dua yang menggerogoti kebahagian yang belum sempat diraba.
Lebih baik bulat ,jika nestapa tidak memandang luka dan nanah yang belum kunjung kering.
Tidak ada yang lebih baik di dunia ini selain berkelana sambil telanjang, tanpa sehelai benang, dan tak berkelaminkan sebuah identitas
12/09/10
Semua Orang Ingin
06/09/10
Ibu, aku berantakan...
Dua jarum beda panjang yang melekat di benda bulat pipih berlindungkan kaca tersebut mulai maju menunjuk angka satu (si pendek tentunya) dan si panjang sudah mulai menyentuh angka dua belas. Yang lebih mudah bila saya ceritakan, saat itu sudah pukul satu dini hari.
Mata saya masih terbuka lebar, mamandangi layar laptop walau dengan tatapan kosong
Saya mau bercerita, hari ini : BERANTAKAN
Mulai dari kamarku, yang secara sadar kutemui dengan susuananya yang tidak jauh beda dari kandang ayam. Bau lembab, sepertinya cocok menjadi ekosistem jamur-jamur yang kebingungan, debu-debu terlihat santai bertegur sapa sambil berterbangan bertukar tempat. Ohya, tidak lupa baju-baju kotor bau apek yang tergeletak di meja belajar, tergantung di teralis jendela sampai menghalangi sinar matahari yang seharusnya bisa membunuh jamur. Tapi beginilah daya kamar yang hanya disapu seminggu sekali....
Lalu penampilanku, setelah mandi, merasa bersih, aku pun bergegas mulai menata apa yang bisa ditata dari kaki hingga kepala. Tapi, kayaknya percuma, tuh! Masih terlihat berantakan. Rambut? sudah disisir.
Wajah? Sudah dioleskan moisturizer (kalau memang masih berantakan, mungkin bawaan janin) -___-
Baju? Tidak ada yang robek, sudah disetrika oleh ibu dengan apiknya
Baiklah, aku berkelit bahwa penampilan kasualku mungkin terlihat "berantakan".....
Kemudian aku memutuskan untuk terduduk sebentar, layaknya melodrama berlatar buaian kamar, aku duduk dengan tatapan kosong di atas kasur, dan berusaha menyadari apa yang berantakan. Kenapa baru saja setengah hariku yang sudah lewat bisa kusimpulkan dengan kondisi "berantakan" yang mayoritas?
Hm.. Dengan suasana galau yang teramat sangat, aku mulai menyadari bahwa kondisi berantakan ini sudah tercipta jauh semenjak aku sadar bahwa mereka tidak tertata rapih. Tidak cukup aku menyapu, membasuh kaca berdebu, melipat pakaian, lantas sekitarku ini berubah menjadi rapih.
Karena, jika aku sempat membiarkan mereka berantakan, walaupun akhirnya akan kurapihkan, siklus semrawut akan menjadi stereotip di keseharianku. Dan berantakan akan menjadi sesuatu yang tidak tuntas.
Benar kata ibu "Sebelum keadaan menjadi berantakan, kembalikan apa yang kamu ambil tadi ke tempatnya semula" satu lagi "Sebelum merasa berantakan, sudahkah kamu berkontribusi untuk memberikan 'kerapihan' sebuah kesempatan?"
Lalu malam ini aku hanya bisa bilang "Ibu, maaf aku berantakan..."
*untuk ibu yang selalu tahu padahal bukan dukun :)
'
Mata saya masih terbuka lebar, mamandangi layar laptop walau dengan tatapan kosong
Saya mau bercerita, hari ini : BERANTAKAN
Mulai dari kamarku, yang secara sadar kutemui dengan susuananya yang tidak jauh beda dari kandang ayam. Bau lembab, sepertinya cocok menjadi ekosistem jamur-jamur yang kebingungan, debu-debu terlihat santai bertegur sapa sambil berterbangan bertukar tempat. Ohya, tidak lupa baju-baju kotor bau apek yang tergeletak di meja belajar, tergantung di teralis jendela sampai menghalangi sinar matahari yang seharusnya bisa membunuh jamur. Tapi beginilah daya kamar yang hanya disapu seminggu sekali....
Lalu penampilanku, setelah mandi, merasa bersih, aku pun bergegas mulai menata apa yang bisa ditata dari kaki hingga kepala. Tapi, kayaknya percuma, tuh! Masih terlihat berantakan. Rambut? sudah disisir.
Wajah? Sudah dioleskan moisturizer (kalau memang masih berantakan, mungkin bawaan janin) -___-
Baju? Tidak ada yang robek, sudah disetrika oleh ibu dengan apiknya
Baiklah, aku berkelit bahwa penampilan kasualku mungkin terlihat "berantakan".....
Kemudian aku memutuskan untuk terduduk sebentar, layaknya melodrama berlatar buaian kamar, aku duduk dengan tatapan kosong di atas kasur, dan berusaha menyadari apa yang berantakan. Kenapa baru saja setengah hariku yang sudah lewat bisa kusimpulkan dengan kondisi "berantakan" yang mayoritas?
Hm.. Dengan suasana galau yang teramat sangat, aku mulai menyadari bahwa kondisi berantakan ini sudah tercipta jauh semenjak aku sadar bahwa mereka tidak tertata rapih. Tidak cukup aku menyapu, membasuh kaca berdebu, melipat pakaian, lantas sekitarku ini berubah menjadi rapih.
Karena, jika aku sempat membiarkan mereka berantakan, walaupun akhirnya akan kurapihkan, siklus semrawut akan menjadi stereotip di keseharianku. Dan berantakan akan menjadi sesuatu yang tidak tuntas.
Benar kata ibu "Sebelum keadaan menjadi berantakan, kembalikan apa yang kamu ambil tadi ke tempatnya semula" satu lagi "Sebelum merasa berantakan, sudahkah kamu berkontribusi untuk memberikan 'kerapihan' sebuah kesempatan?"
Lalu malam ini aku hanya bisa bilang "Ibu, maaf aku berantakan..."
*untuk ibu yang selalu tahu padahal bukan dukun :)
'
Langganan:
Postingan (Atom)
