26/04/11

Untuk "Kagum" yang Tak Terbatas

Saya pikir ini biasa saja.
Sampai pada akhirnya semua presepsi saya mencair jatuh, dan mulai mencari muara yang harusnya tepat.
Dan yang paling tepat menurutnya adalah hati.
Hati yang letaknya memang selalu di bawah otak.

Bukan tanpa sebab Sang Khalik merancang posisi kedudukan mereka, seperti bentuk perlindungan epidermis kepada dermis. Agar sang hati tidak lagi mudah tergolek miris.

Maka saya, manusia, harus melindungi sang hati dengan tameng otak.
Tapi sayangnya, saya adalah insan yang perlahan terlalu mengagumi anda.
Saya sudah berpisah dengan kata rasio, semenjak saya mengetahui bahwa kita adalah kesatuan yang selalu berwujud dua.

Saya masih takut sakit, memang.
Namun kali ini, saya akan membiarkan bias presepsi itu mengalir deras terus mencari muaranya di organ bernama hati, karena yang saya tau ialah, mengagumi kamu dan kita adalah sesuatu yang tidak terbatas......







12/02/11

A Song that Makes me "falling"

"ROMAN KETIGA" : Accoustic version

By: White Shoes And The Couples Company
Written by Aprilia Apsari


"Aku jatuh dan tak bangun lagi, tenggelam di rayuannya. Menerpa s'gala angkara murka, padanya ku 'kan setia....."


Just listen to the lyric and Ms. Sari's voice, soon you'll find the magical meaning of this song.
I don’t know, because it hasn’t leave from my brain since the first time it thrived into my brain.
The beauty and of course originalities of this song really amazed me, even for the hundredth listening.
Once again, WSATCC is a pure brilliance.


Roman Ketiga

Cahya surya menyinari
Menyirami sanubari
Kuterlena akan lagu
Merdu senandung mendayu

Aku Jatuh dan tak bangun lagi
Tenggelam di rayuannya
Menerpa s'gala angkara murka
Padanya Ku 'kan setia

Ku jatuh dan tak bangun
Aku jatuh dan tak bangun
di rayuannya

Terpa sgala angkara
Terpa sgala angkaramu
Ku kan setia


16/12/10

Sketsa Robot

"Pendidikan tanpa uang sama dengan omong kooo.......song!"


"Sketsa Robot Ver. 2.0" karya I Yudhi Soenarto. Mengangkat isu pendidikan di negeri tercinta yang mulai (mungkin dari dulu) berorientasi pada uang, disajikan secara satir, dan tentunya dengan keseluruhan teknis, tim produksi, pemain, dan seluruh komponen pendukung yang luar biasa hebat.. (menurut saya pribadi) hehe.

Pementasan ini cukup berkesan bagi saya secara personal karena saya ikut terlibat di dalamnya. Hehe. Walaupun bukan pemain, tapi saya sebagai tim pemusik sudah mulai merasakan letihnya latihan untuk pementasan ini sejak dua bulan sebelum pertunjukkan. Capek? pasti. Awalnya latihan hanya diadakan hari Jumat. Mulai 7 malam sampai........gak tentu, paling cepat 11 malam. Tapi, semakin mendekati pementasan, latihan pun semakin intensif. Kemudian, sekitar tiga minggu sebelum pementasan, latihan pun mulai diadakan setiap hari. Selesai latihan bukan lagi jam 11, tapi bisa sampe jam 3 pagi. Wow. (Jelas capek. Pulang kuliah, nunggu di kampus sampe jam 7 malem, terus latihan, sampe jam 1 atau 2, paling lama jam 3 pagi, kalo ada waktu kosong nyolong-nyolong ngerjain tugas. )

Tapi semua capek itu kemudian terbayar dengan adanya keluarga baru yang memberi saya banyak pembelajaran, ilmu, cerita, cinta, dan semangat luar biasa. Sebelum pementasan, saya pingin ini cepet kelar kalo ngebayangin bagaimana hecticnya setiap hari, tapi begitu pementasan berakhir, saya mulai kangen. Kangen suasana 9204 sama orang-orangnya, kangen FIB waktu malam menjelang subuh, kangen ketawa ngeliatin akting orang-orang ciamik, dan tentunya kangen sama tim musik yang super sabaaaaar, super hebat, dan superhero. Kita di musik cuma ber-4, terdiri dari (ki-ka): Awan, saya sendiri, Rizky, Mas Asep.

Salut untuk keluarga besar Teater Sastra Universitas Indonesia. Lanjutkan berkarya, menyenangkan bersama kalian.

"Kritis bukan berarti tukang kritik" -oleh: URI (Universitas Robot Indonesia)- Sketsa Robot

27/11/10

Tissue

When everything is not here when they are most needed, I thank God for giving me this tremendously gorgeous tattoo on the skin of my soul: Faith


Dedikasi (minimal) Untuk Diri Anda Sendiri. Tidak Banyak :)

Tidak ada yang lebih menyenangkan selain suara anda ternyata mendapat sebuah perhatian yang tidak terduga (guna news feed)


Jadi begini, Diam bukan berarti tidak peduli, saya (kami ) bukan mahasiswa militan yang tidak punya dedikasi (walaupun kami tidak 'berisik'). Kami juga tidak ongkang-ongkang kaki, tetapi lebih menyenangkan bagi kami untuk menyadari bahwa kami memiliki prestasi TANPA harus diiringi oleh kobaran suara bernada sinis.

Juga dengan karya signifikan yang melebihi ilusi seorang pujangga, kami mampu membuktikan kalau saya (kami) bukan sekedar
"Tong Kosong yang Berbunyi Nyaring" :) Itulah sosok saya (kami) yang sedang anda pertanyakan. Mau lebih kenal? Tinggal buka mata.



-terimakasih. Semoga tidak ada yang tersinggung. Dan ini lebih dari cukup :) -

26/11/10

Ritmik Melodis

Ya, kita dipertemukan oleh rutinitas yang sama-sama kita cintai dan yang bukan pula sebuah kebetulan.
Kemarin, adalah anugerah, ketika saya tahu bahwa anda sangat mengaggumkan. Membuat saya sadar bahwa inilah gejala...........Ah. sekarang saya percaya bahwa selalu ada yang lebih baik dari sejumput masa lalu. Dan itulah anda.

for: - prvrt-

10/10/10

Thank God there's a Mute Button on Twitter

Belakangan ini, saya menemukan kesenangan tersendiri ketika membuka twitter. Kesenangan tersebut menjalar-jalar tak terbendung sampe saya akhirnya bikin tulisan ini.. -__________-
Dimana letak kesenangannya? "Twittermu harimaumu". Ya jelas dari timeline orang-orang yang saya follow.
Gue sendiri juga bukan orang yang hobi nge-twit. Bisa dibilang gak semua kegiatan gue saat itu, gue cantumkan di twitter. Misal : (@ Sushi Tei...mm late dinner with my lovely...yummy...).... hehe

Timeline tentu mencerminkan isi hati atau pikiran si pemilik pastinya (atau mungkin hanya ikut tren nge-post sesuatu). Belakangan, saya suka senyum-senyum sendiri liat twit sejumlah orang yang saya follow, dimana mereka lagi suka marah-marah, mengumpat, bahkan mengkritisi sesuatu dengan pedasnya dengan BERKALI-KALI. Wow!

Okay, Dont get me wrong... niat saya mem-post ini gak bermaksud apa-apa. Cuma, kadang heran aja, kenapa ya orang-orang itu makin ke sini, taunya cuma protes, mengumbar kejelekan sesuatu (yang tanpa sadar juga ternyata membuka aib si penulis twit sendiri) tanpa memberi solusi, dan dilakukan di media publik? Hmm.
Beberapa orang yang saya follow, belakangan giaaaaatttt banget melakukan "persuasi" atau mungkin "provokasi" di twitter. Tentu saja, itu hak mereka, sekali lagi, HAK. Dan sebenarnya saya sering "gatel" ingin ikutan komentar atau 'reply' dengan yang kira-kira seperti ini
"Emang, aksi lo untuk memperbaiki sistem yang lo kritik itu, udah sejauh apa?" .
Gue pernah melontarkan balasan seperti itu pada salah satu org yang gue follow, dan jawabannya seperti ini :
"Ya ini, aksi protes dan membuka kebobrokan, biar orang-orang pada tau".

Tapi jangan lupa, sekali lagi, ini adalah Media Publik, dimana orang-orang bebas melihat dan menilai isi tulisan lo. Jadi, semua bisa menjadi SAH di twitter, ketika lo diserang balik karena pernyataan lo, bahkan ketika lo mengumpat, ketika lo bikin kultwit yang isinya protesan gak ada habis-habisnya pun sah-sah aja. Dan termasuk pendapat saya tentang orang-orang seperti itu, juga terbilang SAH. HAHA.

But, Thank God there's a Mute Button on Twitter nowadays. Jadi, saya menemukan solusi tersendiri untuk menghindari persuasi sejumlah oknum yang kadang bikin saya sendiri jadi mikir "BACOT BANGET LO". Mungkin lebih halus daripada "unfollow" atau "block user" karena faktor kenalan, atau sejenisnya. Hypocrite? I dont think so. Selama sifatnya menjaga perasaan.......(*isi sendiri) haha

Okay, just dont take this post seriously. Just thank God, you can push that Mute Button anytime you want. :)